Blog

RIWAYAT TIONGHOA PERANAKAN DI JAWA

Onghokham

  1. Pengantar

David Reeve

  1. Spek buku

ISBN: 979-3731-63-x

Cetakan Kedua, Komunitas Bambu, 2017

Ukuran: 14 x 21 cm

Jenis Jilid: Soft Cover

Jenis Kertas: Bookpaper

Tebal: xxxiv + 190 hlm

Keterangan Buku: 1 Bahasa

Keterangan Isi: Gambar Hitam Putih

Harga sebelum diskon: Rp 80.000

Harga sesudah diskon: Rp 64.000

Berat: 0.2 kg

  1. Kikers

Salah satu buku penting dalam sejarah Indonesia yang ditulis oleh sejarawan sohor Onghokham ini membahas soal peranakan tionghoa di Jawa atau juga disebut Cina Jawa.

  1. Blurb

Karya sejarawan terkemuka Indonesia ini mengungkapkan masalah orang Tionghoa di Indonesia, terutama di Jawa dan Madura sejak sekitar tahun 1750-an dan asimilasi mereka ke dalam masyarakat Indonesia. Gayanya populer sehingga mudah dipahami, namun tanpa meninggalkan analisis akademis, riset lapangan maupun arsip. Di sini terlihat landasan intelektual yang mendasari pandangan Onghokham selama ini terhadap kedudukan, baik masa lalu, kini dan masa depan orang Tionghoa di Indonesia.

  1. Testimoni

Tulisan-tulisan dalam buku ini ditulis Onghokham sewaktu sedang belajar sejarah, malahan ada yang ditulis sebelum ia mahasiswa sejarah. Namun, saya ingat, dulu banyak pembacanya. Termasuk saya sendiri merasa dihidangkan dengan bacaan yang memikat. – Adrian B. Lapian, Sejarawan

Koleksi tulisan Onghokham yang sohor sebagai sejarawan ini isinya tidak saja mudah dipahami khalayak, namun juga serius dan bernuansa akademis. Lewat riset lapangan maupun arsip, Ong mengungkapkan sejarah sosial dan politik orang Tionghoa peranakan di Jawa dan Madura. Dalam buku ini dapat dilihat pemikiran Ong yang melandasi pandangan intelektualnya selama ini mengenai kedudukan masa lalu dan masa depan orang Tionghoa di Indonesia. – David Reeve, Associate Professor Departemen of Chinese and Indonesian, School of Modern Language Studies, UNSW, Sydney, Australia

Penerbitan kumpulan tulisan Onghokham tentang riwayat Tionghoa peranakan di Jawa ini bukan saja menarik dan pantas dilirik, tetapi juga menjadi penting karena memuat gagasan-gagasan nation building, proses mengindonesia dalam sejarah. Ditulis dengan gamblang, tidak menggebu-gebu dan sesederhana apapun tulisannya didasarkan penelitian. – Harry Tjan Silalahi, Peneliti senior CSIS

  1. Kategori

Sejarah Indonesia, Sejarah Cina, Sejarah Tionghoa, Sejarah Cina Jawa, Sejarah Identitas, Sejarah Sosial, Sejarah Politik, Demografi, Etnologi, Sejarah Etnis, Sejarah Jawa, Sejarah Pluraslime.

  1. Daftar isi

Daftar Singkatan              

Catatan Editor  

Kata Pengantar oleh David Reeve            

Perkawinan Indonesia-Tionghoa               

sebelum abad ke-19 di Pulau Jawa

Masyarakat ‘Peranakan’ di Madura:        

Keyakinan Islam dan asimilasi    

Terjadinya suatu minoritas          

Tiga macam kebudayaan             

yang mempengaruhi cara hidup

Tionghoa peranakan

Han, Tjoa dan The di Surabaya:

Tiga famili elite peranakan di abad ke-19

Sejarah pengajaran minoritas     

Tionghoa peranakan

Sejarah dan kedudukan hukum

masyarakat Tionghoa dari abad ke abad

Chung Hwa Hui, PTI dan               

Indonesia Merdeka

Klenteng dengan gaya bangunan Barat  

Warga Negara Filipina yang mempunyai                

darah Tionghoa

Proses asimilasi Tionghoa peranakan      

di Filipina

Tentang nama-nama Warga Negara        

Indonesia keturunan Tionghoa

Asimilasi golongan peranakan   

Asimilasi dan Manifesto Politik  

Sumber               

Glosarium           

Indeks 

  1. Resensi

Melirik Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa

Achmad Sunjayadi

Pengamat budaya

Dalam pidato menyambut 70 tahun Ong Hok Ham tiga tahun lalu Professor A.B. Lapian mengusulkan untuk menerbitkan kembali kumpulan karangan Pak Ong di majalah Star Weekly. Usulan A.B. Lapian itu sepertinya diwujudkan dalam penerbitan buku Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa ini. Ada 15 artikel yang disuguhkan dalam buku ini dari 40 artikel yang menurut editornya pernah ditulis Ong Hok Ham untuk Star Weekly periode 1958–1960. Periode ketika Ong masih belia, belum genap 25 tahun, saat artikel pertamanya ‘Perkawinan Indonesia-Tionghoa sebelum abad ke-19 di Jawa’ (hal. 1) terbit. Tepatnya 15 Februari 1958. Artikel ini menceritakan kedatangan perempuan Tionghoa totok pertama di Batavia pada abad ke-17 yang begitu menggemparkan dan menurut Ong dapat disamakan dengan kedatangan orang Mars ke bumi. Diceritakan pula perempuan Tionghoa totok pertama yang datang ke Jawa (Semarang) pada 1815. Ia menjadi tontonan bagi nyonya-nyonya peranakan di Semarang karena perempuan Tionghoa totok itu berpakaian aneh dengan kaki kecil yang diikat. Sesudah menonton, para nyonya Semarang itu memberi persen bagi perempuan Tionghoa totok itu (hal.4).

Selain itu diceritakan pula seorang janda, seorang perempuan Bali yang diangkat menjadi kapitein oleh Gubernur Jenderal Joan Maetsuyker pada 1666 (hal.5), serta kapitein Tionghoa muslim terakhir, Kapitein Mohammad Japar yang meninggal pada 1827 (hal.7). Disusun secara kronologis, tulisan-tulisan Ong mengenai masyarakat Tionghoa peranakan di Jawa dan Filipina memang memikat. Meskipun ditulis untuk sebuah majalah populer dan mudah dimengerti tetapi isinya begitu serius, analitis dan bernuansa akademis. Salah satu tulisan menarik adalah ‘Masyarakat Peranakan di Madura’ mengenai masyarakat Tionghoa peranakan di Madura (hal.15). Dalam tulisan ini Ong mengungkapkan mitos yang dipercayai oleh orang Madura asli yang menjelaskan mengapa orang Madura ‘asli’ jarang menikah dengan perempuan ‘peranakan’. Alasannya adalah orang Tionghoa berasal dari ‘abu’ yang lebih tua dari orang Madura sehingga jika ada seorang Madura menikah dengan perempuan keturunan Tionghoa maka malapetaka akan turun kepada laki-laki Madura itu. Namun, hal ini tidak berlaku bagi kaum pria ‘peranakan’. Mereka justru diperbolehkan menikah dengan perempuan Madura (hal.25). Selain itu diungkapkan pula cerita asal usul orang Tionghoa di Madura yang konon datang ke Sumenep karena dipanggil oleh Panembahan Sumenep pada 1790 untuk mendirikan keraton dan masjid Sumenep (hal.26).

Cerita lain mengatakan bahwa nenek moyang orang ‘peranakan’ ini berasal dari Semarang. Mereka pada 1740 terpaksa harus bersembunyi di pesisir Sumenep karena di Semarang terjadi pemberontakan dan pembunuhan terhadap orang Tionghoa (hal.27). Terjadinya suatu ‘minoritas’ [Tionghoa peranakan] di Indonesia pun ditampilkan dalam buku ini (hal.33). Menurut Ong hal itu disebabkan lenyapnya elite Indonesia, kebijakan politik pemerintah Hindia Belanda yang mengisolasi penduduk Hindia dalam berbagai golongan dengan menerapkan wijkenstelsel (pembagian kampung) dan passenstelsel (penggunaan pas untuk mengadakan perjalanan).

Rasa penasaran A.B Lapian yang tidak menemukan tulisan Ong mengenai ‘makanan’ dalam buku Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang (2003) rupanya terobati. Dalam buku ini Ong menyinggung masalah itu mengenai makanan yang dipersembahkan pada leluhur pada Tahun Baru Imlek oleh masyarakat Tionghoa di Jawa Tengah. Yaitu makanan tradisional Jawa yang penuh dengan santan dan manis. Hal ini menurut Ong merupakan budaya baru yang menyelundup ke dalam meja sembahyang leluhur kaum peranakan (hal.51).

Selain pengaruh Jawa, pengaruh Eropa pun masuk dalam makanan yang disajikan pada para tamu sewaktu penyelenggaraan pesta Luitenant Tan. Masakan itu berupa Hors d’Ouvre, semacam capcay Eropa yang dihidangkan dengan roti (hal.59). Selain aspek budaya ‘Klenteng dengan gaya bangunan Barat’ (hal.141), aspek lain yang ditampilkan buku ini adalah aspek pendidikan dalam ‘Sejarah pengajaran minoritas Tionghoa’ (hal.89), aspek hukum dalam ‘Sejarah dan kedudukan hukum masyarakat Tionghoa dari abad ke abad’ (hal.105), serta politik dalam ‘Chung Hwa Hui, PTI, dan Indonesia Merdeka’ (hal.123) dan ‘Asimilasi dan Manifesto politik’ (hal.209). Bila kita simak lebih jauh, tema utama dari artikel-artikel Ong Hok Ham ini adalah bahwa orang Tionghoa dan pribumi Indonesia sudah terasimilasi secara baik sebelum munculnya pemerintah kolonial Belanda yang semakin kuat sejak abad ke-19.

Namun, kemudian kebijakan politik, ekonomi, sosial, pendidikan dan hukum Belanda telah dengan sengaja menciptakan perbedaan antara kedua kelompok masyarakat tersebut. Perbedaan yang tegas antara keduanya sesudah masa kemerdekaan merupakan produk dari kolonialisme. Seharusnya ketika kemerdekaan tengah ‘melucuti’ warisan-warisan kolonial itu, sudah semestinya kedua masyarakat tersebut harus didorong untuk dapat berasimiliasi kembali.

Keberangkatan Ong ke Filipina pada bulan Januari hingga Juni 1959 yang merupakan kunjungan luar negeri pertama baginya, didanai oleh Star Weekly. Sebagai imbalan, Ong menulis sejumlah artikel untuk majalah ini. Untuk menambah uang saku selama di sana, Ong juga membawa sejumlah kain batik untuk dijual. Namun, kebanyakan kain batik itu diberikan sebagai hadiah. Tambahan uang saku yang semula diniatinya diperoleh dari imbalan tulisan yang dimuat media Filipina, termasuk Manila Chronicle, tulis David Reeve. Hasil kunjungan Ong di Filipina yang termuat dalam kumpulan tulisan ini adalah ‘Warga negara Filipina yang mempunyai darah Tionghoa’ (hal.153) dan ‘Proses asimilasi Tionghoa peranakan di Filipina’ (hal.163).

Sebagai karya salah seorang sejarawan terkemuka Indonesia yang unik, sayang rasanya melewatkan buku ini. Tak banyak orang yang mampu mengedit tulisan-tulisan Pak Ong. Tulisan-tulisannya, menurut para editor yang pernah mengedit tulisannya, sangat njelimet. Untunglah, para editor itu mampu ‘mengolah’ maksud Ong sehingga tulisan-tulisan ‘sang ahli masak’ ini jadi senikmat masakannya. Namun terkadang mereka tak luput dari kesalahan. Seperti pengalaman Goenawan Mohammad yang pernah mengedit tulisan Ong. Setelah Ong berbicara panjang lebar di suatu kesempatan mengenai salah satu tulisannya rupanya maksud Ong berbeda dengan hasil editan sang editor. Goenawan pun minta maaf pada Ong yang ditanggapinya dengan santai, “Tidak apa-apa, lha wong tidak ada yang baca!”

Hal yang sama pun terjadi pada buku menarik ini. Misalnya dalam kalimat: ‘Fakta ini menyesal saya tak dapat selidiki kebenarannya’ (hal.184) yang seharusnya: ‘Saya menyesal tak dapat menyelidiki kebenaran fakta ini.’ Beberapa kesalahan ejaan juga ‘menghiasi’ buku ini seperti kata instutuut seharusnya instituut (hal.72). Lalu Probolinggo Geschledenis… yang seharusnya Probolinggo Geschiedenis…(hal.87). Berikutnya Europeesche Lagere Shool seharusnya Europeesche Lagere School (hal.101), …van Minvergemonde… seharusnya …van Minvermogende… (hal.103), borgeren ende ondersaten seharusnya burgeren ende onderstaten (hal.116).

Hal lainnya adalah tidak adanya catatan untuk istilah “kaum Packard” (hal.137) dalam glosarium. Istilah ini mungkin telah diketahui oleh para sejarawan tetapi bagi masyarakat awam istilah ini perlu dijelaskan lebih jauh. Istilah ini mengacu pada merek mobil Packard yang digunakan oleh para kaum elite pada tahun 30-an. Selanjutnya ada catatan kaki yang urutannya berantakan. Catatan kaki bernomor 2 yang kembali ke nomor 1 (hal.112). Terlepas dari itu semua kita harus angkat topi untuk usaha editor dalam penerbitan buku yang dilengkapi indeks, glosarium dan daftar singkatan ini. Sehingga tepatlah kata pak Harry Tjan Silalahi, peneliti senior CSIS bahwa buku ini pantas dilirik bagi mereka yang tertarik pada masalah Tionghoa peranakan. Suatu kelompok masyarakat yang juga adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia yang beraneka ragam.

Sumber: https://sunjayadi.com/melirik-riwayat-tionghoa-peranakan-di-jawa-2/

  1. Tentang penulis

Onghokham dan Sejarah Indonesia

Andi Achdian

Dosen Sejarah

Onghokham adalah sejarawan dan sekaligus cendikiawan. Sebagai sejarawan, ia piawai menjadi ‘saksi langsung’ dan tahu ‘tentang apa yang terjadi’ terhadap peristiwa yang menjadi perhatiannya. Sebagai cendikiawan, ia peka terhadap denyut kehidupan sosial, politik, dan budaya masyarakat sekitarnya. Kombinasi keduanya menjadikan karya dan pemikiran Onghokham unik dan inspiratif. Uraiannya mengenai peran dan sosok jago dalam sejarah Indonesia periode kolonial memberikan pemahaman kongkrit tentang bagaimana sifat dan bentuk kekuasaan politik di Indonesia, paling tidak sepanjang periode kekuasaan otoriter Orde Baru. Begitu juga ulasannya mengenai tuyul yang mencerminkan kesarjanaan dan kecendikiawanan Onghokham dalam mengangkat psikologi populer rakyat petani di pedesaan Jawa dalam menghadapi krisis dan eksploitasi.

Pada akhir dekade 1960-an dan awal 1970-an, semangat jaman dunia banyak dipengaruhi sentimen anti-perang Vietnam. Kalangan intelektualnya terpana untuk menjelaskan faktor-faktor yang melatarbelakangi keberhasilan tentara-petani Vietnam melawan kekuatan perang modern Amerika Serikat. Karya-karya penting mengenai tema petani dan perubahan sosial dan pendekatan ‘sejarah dari bawah’ menjadi arus pemikiran populer di kalangan ilmuwan sosial di dunia saat itu. Onghokham menjadi bagian semangat jaman ini. Disertasi doktoral yang dipertahankannya di Yale University (Onghokham: 1975) berbicara tentang perubahan sosial di Madiun pada abad 19 dan 20 yang menyoroti dinamika hubungan antara petani dan priyayi Jawa dibawah kekuasaan kolonialisme Belanda.

Dalam salah satu bagian bab disertasi doktoralnya, Onghokham menggambarkan sebuah pertentangan menarik antara para bupati Jawa yang semakin merosot kekuasaan politik mereka dengan para pejabat Belanda. Bagian ini kemudian ditulis menjadi sebuah artikel panjang yang menjadi masterpiece pemikiran Onghokham mengenai sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia: “The Inscrutable and the Paranoids: An Investigation into the sources of the Brotodiningrat Affair” [Onghokham: 1978]. Kisah Brotodiningrat menggambarkan secara rinci upaya sia-sia pemimpin tradisional Jawa—golongan pryayi—untuk kembali menghidupkan kekuasaan tradisional mereka berhadapan dengan mesin birokrasi kolonial yang semakin canggih.

Kritisisme, komitmen dan kepekaan sosial-politik adalah jantung pemikiran yang melatarbelakangi karya-karya tulis Onghokham. Termasuk juga perhatiannya terhadap peran kaum intelektual dan hubungannya dengan perubahan sosial dan politik. Dalam karya berjudul Runtuhnya Hindia Belanda, yang mencakup periode antara 1930-an dan 1940-an, Onghokham menggambarkan ‘kekosongan’ dinamika pergerakan anti-kolonial di Indonesia saat itu. Faktor yang ditekankannya adalah Indonesia telah kehilangan tokoh-tokoh intelektual yang menginspirasikan gerakan anti-kolonial sebelumnya dengan pembuangan tokoh-tokoh seperti Sukarno, Hatta, Sjahrir dan termasuk hilangnya tokoh-tokoh pergerakan kiri yang telah dihancurkan oleh penguasa kolonial setelah pemberontakan komunis yang gagal pada tahun 1926. Terputusnya hubungan antara intelektual dan massa telah menjadikan periode tersebut sebagai periode yang paling tidak menarik dari segi kedalaman bentuk pergerakan dan kekayaan intelektual yang mengisi dinamiknya.

***

Di luar kesarjanaan dan kecendikiawanannya, Onghokham adalah pribadi yang menarik. Dilahirkan pada tanggal 1 Mei 1933 di Surabaya, Onghokham tumbuh besar dalam lingkungan elite kelas menengah perkotaan yang dekat dengan segala sesuatu yang berbau barat (baca: Belanda) dan gagasan-gagasan liberal. Onghokham mengenyam pendidikan menengah di Surabaya, Hogere Burger School (HBS), yang mayoritas murid berkebangsaan Eropa. Dalam periode ini ketertarikannya terhadap sejarah muncul, melalui pembacaan terhadap kisah ratu Prancis Marie Antoniette yang mati di-goulletine dalam peristiwa revolusi Prancis (1789-1792). Dalam kaitan ini, pengetahuan mengenai dunia barat mungkin lebih baik dibanding lingkungan sekitarnya dalam pikiran Onghokham muda.

Revolusi Indonesia dan pendudukan Jepang memberikan orientasi baru dalam pikirannya mengenai ‘Indonesia’. Dalam perjalanan pengungsian dari Surabaya menuju Malang saat Belanda jatuh dan Jepang masuk Indonesia pada bulan Maret 1942, Onghokham menyaksikan sesuatu yang lain diluar lingkungan kecil keluarga, sekolah dan teman permainan: masyarakat pribumi dari beragam latar belakang sosial yang juga turut mengungsi. Ia juga menyaksikan para pemuda berambut gondrong yang menjadi kekuatan dinamik revolusi Indonesia. Sesuatu mengenai Indonesia, yang saat itu masih bergejolak dan kumuh, hadir dalam pemikiran Onghokham. Bentuknya lebih dari sekedar kesadaran intelektual, meliputi simpati dan pemihakan terhadap orang-orang kecil yang menjadi korban dari peristiwa-peristiwa besar. Kesadaran ini konsisten dengan minat dan perhatiannya sebagai seorang akademisi ketika belajar sejarah di Fakultas Sastra UI.

Meskipun saat kuliah ia telah banyak menulis soal-soal berkait dengan kedudukan masyarakat Tionghoa di Indonesia, tetapi subyek sejarah Indonesia yang serius tertuang dalam skripsi sarjana muda yang ditulisnya mengenai saminisme yang menggambarkan resistensi sebuah kelompok petani di Indonesia menghadapi sistem kekuasaan modern. Di sinilah sosok pribadi Onghokham menjadi menarik. Onghokham berhasil keluar dari dunia kecil keluarga, latar belakang ras, dan kelas sosial untuk kemudian melihat dunia Indonesia yang luas. Sebuah keberhasilan yang mungkin jarang didapat dengan mudah oleh para intelektual lainnya di Indonesia. Secara personal hal ini tergambar dari pola pergaulan dewasa Onghokham yang dengan mudah berhubungan dengan kalangan elite sosial dan politik di Indonesia, termasuk kalangan diplomat asing dan teman-teman dari manca-negara. Pada saat sama berkenalan dan bercakap-cakap dengan orang kebanyakan dalam perjalanan di bis kota, saat berbelanja di pasar dan saat mengajar ilmu sejarah bagi para muridnya, dan termasuk hubungan dekat dengan para pembantunya.

***

Manusia—dan sudah barang tentu peristiwa—adalah subyek utama perhatian Onghokham, seperti pernah ia berkata: ‘Sejarah adalah mengenai orang, bukan struktur, sistem ataupun institusi.’ Nampaknya ini pula yang membentuk keluwesan cara berpikir Onghokham sebagai sejarawan dan cendikiawan. Dan ini menyebabkan ia kurang menyukai apa yang oleh ilmuwan sosial sebagai metodologie. “Pengalaman manusia begitu kaya, dan terlalu sempit untuk ditangkap oleh sebuah metodologi,” demikian keyakinan Onghokham. Sebagai cendikiawan ia telah berhasil—dari sudut pandangnya—untuk menyuarakan hal-hal penting mengenai keadilan dan kualitas kehidupan demokrasi di Indonesia. Sebagai sejarawan ia telah berhasil membuka pintu memahami Indonesia yang kaya nuansa.

Satu kekurangan adalah sebuah karya tulis lengkap yang dapat dianggap menjadi masterpiece pemikiran Onghokham. Saat ini kita baru mendapatkan penggalan gambaran itu melalui serangkaian artikel yang ditulisnya. Pikiran Onghokham mengenai sejarah Indonesia masih berserak-serak dalam satu pigura ibarat lukisan pointilism, yang mengingatkan kita pada sosok Richard Cobb, ahli sejarah Prancis berkebangsaan Inggris yang menjadi favorit Onghokham. Tidak heran bila bentuk pemikiran Onghokham bisa dibentuk oleh siapa saja yang membaca dan mengumpulkan karya tulisnya. Onghokham pada suatu saat bisa menjadi seorang pengamat masalah Tionghoa, bisa muncul sebagai orang yang piawai dalam masalah budaya politik masyarakat Jawa dan lainnya seperti muncul dalam berbagai terbitan kumpulan tulisan Onghokham di Indonesia.

Serangan stroke pada 2001 mungkin juga menjadi faktor penghalang, meskipun ia tetap bersemangat menulis meskipun hanya dengan tangan kanannya. Suasana jaman juga barangkali mempengaruhi produktivitasnya menulis. Setelah reformasi politik Indonesia menjadi stabil, kuantitas tulisannya menurun dan soal-soal politik kontemporer semakin jarang muncul, terakhir tulisannya tentang ‘eksekutif yang mahal’. Mungkin ini berkait dengan sikap kecendikawanan yang merasa kehilangan tantangan setelah rejim Orde Baru tumbang. ‘Orde Baru dan sistem kekuasaannya ibarat karikatur bagi saya dalam melihat sejarah, khususnya kolonialisme Belanda di Indonesia’, seperti pernah dilontarkannya. Di sini kita menemukan komitmen dan keberpihakan sebagai cendikiawan sebagai syarat penting pemikiran Onghokham mengenai sejarah Indonesia.

Sekaligus hal itu menjadi dasar bagi keunikan sumbangan Onghokham dalam penulisan sejarah Indonesia. Onghokham tidak pernah mengikatkan diri pada rejim yang berkuasa, dan senantiasa selalu berdiri di luar kekuasaan tersebut. Dalam kaitan ini Onghokham dekat dengan denyut nadi kaum pro-demokrasi di Indonesia. Tulisan-tulisannya menampilkan “sejarah yang lain” di luar arus mainstream penulisan sejarah yang militeristik dan birokratik. Ketika banyak buku sejarah memberikan legitimasi pada kekuasaan otoriter Orde Baru, atau paling tidak melarikan diri atas kontrol kekuasaan itu, Onghokham menyuarakan “sesuatu yang lain” sebagai oposisi terhadap kekuasaan rejim. Kemarahannya pada otoritarianisme dan militerisme, misalnya dituangkan dalam tulisan-tulisannya yang menyorot sosok pembesar, pembentukan elit militer dan politik dalam sejarah Indonesia. Inilah sejarah yang lain yang disuarakan Onghokham dan menegaskan posisi serta sumbangannya bagi pemikiran sejarah Indonesia. Onghokham telah menjadi perwakilan intelektual—melalui pengetahuannya tentang sejarah—bagi para aktivis demokrasi di Indonesia di bawah rejim Orde Baru.

Sumbangan lain terwujud pada saat Onghokham masih kuliah dan kemudian menjadi dosen di FSUI melalui perkenalannya dengan para mahasiswa Universitas Cornell yang saat itu sedang mengkaji Indonesia, seperti almarhum Daniel Lev, Benedict Anderson dan Herbert Feith. Onghokham berperan penting menjadi pintu gerbang bagi mahasiswa-mahasiswa itu untuk mengenali Indonesia. Pandangan-pandangan Onghokham yang kritis dan tajam mengenai situasi Indonesia adalah pintu terbaik bagi orang-orang di luar Indonesia mengerti denyut dan hiruk-pikuk politik Indonesia yang saat itu sedang dilanda arus pertentangan ideologi tajam di bawah perang dingin, dan terus membentuk sesuatu bernama Indonesia. Dan sampai saat ini, melalui tulisan-tulisannya, Onghokham terus menjadi pintu gerbang yang menarik bagi siapapun untuk mengenal Indonesia.

Dalam tahun-tahun terakhir Onghokham masih memiliki obsesi: menterjemahkan karya-karya Ferdinand Braudel tentang peradaban dunia memasuki abad kapitalisme ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin ini adalah sub-kesadaran dalam diri Onghokham untuk membangun sebuah bentuk pemikiran yang bulat dan utuh sebagai sejarawan. Dalam sebuah percakapan, Onghokham telah melontarkan sebuah pertanyaan yang harapannya akan menjadi sebuah karya pemikiran lengkap: Apa yang menjadikan masyarakat Indonesia (khususnya Jawa) selama berabad-abad tetap survive? Ia mengajukan dugaan bahwa pemilikan atas tanah adalah dasar dari survival itu. Tetapi Onghokham telah meninggalkan kita semua pada sore hari tanggal 30 Agustus dalam usia 74 tahun. Pemikirannya belum lengkap dan masih harus dikerjakan oleh para sejarawan dan cendikiawan lainnya di Indonesia. Selamat jalan Onghokham.

Sumber: https://andiachdian.wordpress.com/2014/12/22/onghokham-dan-sejarah-indonesia/ 

  1. Berita buku
  2. Ilustrasi
  3. Dokumentasi video
  4. Buku lain terkait
  • Onze Ong: Onghokham dalam Kenangan (David Reeve, JJ Rizal & Wasmi Alhaziri)
  • Migrasi Cina, Kapitalisme Cina, dan Anti Cina (Onghokham)
  • Sukarno: Orang Kiri, Revolusi & G30S 1965 (Onghokham)
  • Raden Saleh: Anak Belanda, Mooi Indie & Nasionalisme (Harsja W. Bachtiar, Peter Carey & Onghokham)
  • Cina Khek dari Singkawang (Hari Poerwanto)
  • G30S 1965, Perang Dingin & Kehancuran Nasionalisme: Pemikiran Cina Jelata Korban Orba (Tan Swie Ling)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>