Blog

ORANG INDONESIA DI KAMP KONSENTRASI NAZI: Autobiografi Parlindoengan Loebis

Parlindoengan Loebis

  1. Pengantar
    Harry A Poeze

  1. Spek buku

ISBN 979-3731-08-7
Cetakan Pertama, Komunitas Bambu 2006
Tebal: xvi + 293 hlm
Ukuran: 14x 21 cm
Jenis Kertas: HVS
Jilid: Soft Cover
Berat: 335 gr
Harga asli: Rp 55.000
Harga diskon: –

  1. Kikers

Inilah satu-satunya buku yang ditulis langsung oleh pelaku sejarahnya. Parlindoengan Loebis membagi kenangan-kenangannya ketika menjadi salah seorang tawanan asal Indonesia di kamp konsentrasi Nazi.

  1. Blurb

Otobiografi Parlindoengan Loebis ini adalah satu-satunya buku yang mengisahkan pengalaman orang Indonesia mengenai masa hidupnya di kamp konsentrasi Nazi. Pembaca dapat mengikuti riwayat hidup Loebis yang diliputi kejadian-kejadian mengerikan dalam gaya penceritaan yang lugas, tidak diperindah secara sastra, namun memperoleh dimensi yang lebih mengerikan lagi menyangkut kehidupannya ketika disekap dalam kamp konsentrasi Belanda yang terkenal kejam di Schoorl dan Amersfoort, dan di Jerman, yaitu di Buchenwald dan Sachsenhausen, sampai kapitulasi Jerman bulan Mei 1945.

  1. Testimoni

Pembaca dapat mengikuti riwayat hidup Loebis yang diliputi kejadian-kejadian mengerikan dalam gaya penceritaan yang lugas, tidak diperindah secara sastra, namun memperoleh dimensi yang lebih mengerikan lagi. – Harry A. Poeze, Sejarawan dan Direktur KITLV Press

  1. Kategori

Sejarah Perang, Autobiografi, Sejarah Perang Dunia.

  1. Daftar isi

Pengantar dari keluarga
Catatan editor
Pengantar oleh Dr. Harry A Poeze

  • Prolog

  • Masa kanak-kanak

  • Lulus dari ELS

  • Meneruskan ke AMS di Betawi

  • Menjadi mahasiswa kedokteran

  • Kegiatan mahasiswa kita di Betawi

  • Berangkat ke Negeri Belanda

  • Tiba di Negeri Belanda, kuliah di Leiden

  • Anggota Perhimpunan Indonesia

  • Menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia

  • Kehidupan mahasiswa Indonesia di Negeri Belanda 1932-1940

  • Menjelang Perang Dunia II dan tahun-tahun permulaannya

  • Perkenalan dan perkawinanku dengan Jo

  • Ditangkap tentara NAZI

  • Dipindahkan ke kamp konsentrasi di Jerman

  • Sejarah kamp-kamp konsentrasi

  • Buchenwald

  • Dipindahkan ke pabrik pesawat Heinkel

  • Menjadi Dokter di Kamp

  • Pemboman sekutu

  • Sesudah Perang Dunia II

  • Pulang ke Tanah Air

Dokumen fotografis Parlindoengan Loebis setelah tahun 1947
Glosarium
Indeks

  1. Resensi

Pemuda Batak di Kamp NAZI

Achmad Sunjayadi
Pemerhati budaya

Nasib orang siapa tahu, itulah inti dari buku autobiografi ini. Apalagi dengan judul utama yang cukup ‘provokatif’: Orang Indonesia di kamp NAZI.  Tentu kita akan tertarik karena siapa yang menyangka bila ternyata ada “orang Indonesia” pernah “terlibat” dalam salah satu catatan sejarah dunia. Lantas, kita bertanya siapakah orang Indonesia yang pernah “mencicipi” kamp NAZI ini?

Beruntung si pelaku masih hidup dan sempat menuliskan kenangannya sebelum jatuh sakit (terkena stroke). Sehingga sepenggal kenangan yang mungkin berharga dalam mozaik sejarah ini bisa kita ketahui.

Adalah Parlindoengan Loebis seorang pemuda Batak yang menyelesaikan sekolah kedokteran di Leiden, Belanda dan berpraktek di sana. Rasa penasaran kita mulai terkuak dan semakin jelas karena bagaimana mungkin Indonesia di belahan Asia bisa “terlibat” dalam kecamuk perang di belahan Eropa. Rupanya Loebis “dicokok” di Belanda oleh pasukan NAZI pada 1941 setahun setelah Jerman masuk ke Belanda.

Dalam historiografi Belanda tanggal 10 Mei 1940 merupakan hari yang bersejarah. Hari itu setelah menjatuhkan beberapa negara di Eropa, pasukan Jerman merangsek masuk ke Belanda. Belanda jatuh dan dikuasai Jerman!. Bukan kebetulan ini merupakan tahun yang sama, Parlindoengan Loebis menyelesaikan pendidikan dokternya.

Ironisnya dalam historiografi Indonesia, nama Parlindoengan Loebis kurang begitu dikenal. Padahal dalam In het land van de overheerser I: Indonesiers in Nederland 1600-1940 karya Harry A Poeze disebutkan bahwa Loebis merupakan ketua Perhimpunan Indonesia (PI) periode 1936-1940. PI sendiri merupakan organisasi pergerakan perintis konsep “Indonesia”  dan “ke-Indonesiaan” dimana beberapa founding fathers Indonesia, seperti Hatta, Sjahrir, Subardjo, Iwa Kusumasumantri, Ali Sastroamidjojo pernah bergabung.

Parlindoengan Loebis lahir di Tapanuli Selatan pada 30 Juni 1910 dan menutup mata di Jakarta pada 31 Desember 1994. Membaca riwayat pendidikannya, kita bisa menduga Loebis berasal dari kalangan pejabat tinggi yang pada masa itu mampu menyekolahkan anaknya di pulau Jawa dan Eropa (Belanda). Karena pada masa itu mana mampu seorang anak dari kalangan keluarga biasa sekolah ke luar negeri. Di samping faktor otak sang anak, faktor orang tua juga memegang peranan penting.

Malam itu, 26 Juni 1941, Loebis ditangkap oleh dua reserse Belanda di rumah sekaligus tempat prakteknya di Amsterdam. Mereka meminta Loebis untuk ikut ke Euterpestraat. Di sana ia dihadapkan pada seorang opsir Jerman yang hanya memastikan bahwa dirinya adalah Parlindoengan Loebis. Hanya itu saja dan mulailah petualangan  pemuda Batak dari satu kamp NAZI ke kamp NAZI lainnya, baik di Belanda maupun Jerman (hal.128).

Pertanyaan yang kemudian berkecamuk di benak kita adalah mengapa ia ditangkap. Alasan mengapa ia ditangkap dan dijebloskan ke kamp konsentrasi diketahui Loebis beberapa tahun kemudian yaitu pada bulan Maret 1945.

Loebis yang memang berprofesi sebagai dokter diminta membantu Dr. Koch yang berasal dari Leiden, di poliklinik Kamp Schoorl. Dari percakapan-percakapan dengan orang yang berobat, Loebis menyimpulkan bahwa orang yang ditawan adalah para pengurus partai serikat buruh dan aktif dalam pergerakan pemuda. Bahkan ada pula yang tak mengetahui kesalahannya tetapi ditangkap waktu diadakan razia.

Pengalaman dalam kamp dituturkan Loebis secara lugas tanpa bahasa berbunga-bunga. Misalnya pengalaman pertamanya menikmati ikan paling (belut) yang diasap, yang sebelumnya tak disuka karena mirip ular serta kerinduannya pada cabe dan sambal (hal.137)
Di Kamp Amersfoort makanan sudah semakin berkurang hingga berbagai cara ditempuh untuk mendapatkan makanan tambahan. Misalnya dengan cara pura-pura membantu mengangkat kentang atau bawang.

Padahal, niat sesungguhnya adalah mencuri dua atau tiga kentang yang cukup untuk satu atau dua hari (hal.144). Kiat mendapat makanan ekstra yang lebih ekstrim adalah dengan mencuri kentang sedikit demi sedikit lalu di bawa ke WC. Di sana, kentang dimasukkan dalam kloset dan ketika kloset disiram, kentang keluar. Klosetnya tidak keluar ke dalam lorong di bawah tanah melainkan keluar ke permukaan tanah. Begitu selesai bekerja, kentang itu dipungut lagi (hal.145)

Usai “mencicipi” kamp di Belanda, pengalaman berikutnya adalah  pengalaman kamp di Jerman. Kamp Buchenwald menjadi tempat pertama persinggahannya. Di sini, nama menjadi tak berarti digantikan oleh tanda dan nomor sehingga para tawanan pun merasa bukan menjadi manusia.

Tanda yang dikenakan para tawanan berupa segitiga dengan titik puncak di bawah. Sebagai pembeda antara satu golongan tawanan dengan tawanan lainnya digunakan warna. Warna merah adalah untuk tawanan politik, hijau untuk para residivis, hitam untuk saudagar gelap, gipsi serta penganut Jehovah, agama yang dilarang pemerintah Jerman serta warna merah muda, untuk para homoseks.  Khusus untuk orang Yahudi, mereka memakai tanda bintang Yahudi (David) berwarna kuning (hal 164-165). Warna itu pun bisa berubah. Misalnya mereka yang mendapat warna merah muda (kebanyakan golongan terpelajar), jika dianggap sudah lama tinggal di kamp dan memiliki teman banyak sering diganti dengan merah.

Kekompakan antar sesama golongan di kamp begitu erat. Mereka yang memiliki warna yang sama saling menolong. Golongan hijau dikenal tak dapat dipercaya dan ganas. Sementara golongan merah lebih lunak, teratur tetapi disiplin. Dapat ditebak jika golongan hijau yang berkuasa bagaimana situasi di kamp.

Pengalaman menarik lainnya adalah urusan seks. Ketika itu rombongan penghuni kamp Heinkel berbondong-bondong plesir ke kamp Sachenhausen yang berjarak 10 kilometer untuk mengunjungi tempat bordil. Mereka diperbolehkan ke sana hanya pada hari Minggu. Sebelum berangkat para tawanan sudah bersiap sejak hari Sabtu. Ada yang menggunting rambut, menyeterika pakaian, bahkan ada yang bersolek. Ada juga yang mencari kado untuk dihadiahkan pada para wanita di bordil itu. Tarif para wanita itu hanya 5 Mark yang dibayar dengan karcis uang (hal.201).

Loebis pun pernah satu kali ikut rombongan itu. Beruntung, ia memakai tanda dokter sehingga tak perlu antri. Tempat bordil itu berupa barak kecil dengan delapan kamar kecil berukuran 2,5 X 3,5 meter yang dijaga dua tentara. Para wanita dalam tempat bordil yang berusia sekitar 20-30 tahun itu hanya mengenakan rok dalam tembus pandang. Selebihnya polos. Ada juga yang mengangkat roknya tinggi-tinggi sambil bersandar di meja. Yang jelas tempat bordil itu hanya untuk bangsa Arya, seperti orang Belanda, Denmark, Norwegia, Swedia, Belgia dan Luxemburg. Bangsa lain dilarang masuk (hal.202). Tidak jelas, apakah Loebis juga sempat “mencicipi” kehangatan para wanita itu.

Lalu bagaimana nasib Parlindoengan Loebis bisa lolos dari kamp konsentrasi NAZI dan mampu menuliskan catatannya sehingga ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang mengabadikan pengalamannya dalam kamp konsentrasi? Serta alasan dia ditangkap? Anda dipersilahkan membaca buku ini.

Buku ini dilengkapi dengan satu bab mengenai sejarah kamp konsentrasi (hal.157) , foto-foto serta glosarium yang memudahkan pembaca untuk mengetahui istilah-istilah yang digunakan. Mungkin akan lebih menarik lagi jika buku ini dilengkapi dengan peta, terutama yang kamp-kamp konsentrasi tempat Loebis ditahan. Sehingga pembaca dapat membayangkan di mana tempat-tempat tersebut.

Buku ini mengajarkan suatu hal bahwa menulis catatan (seremeh apapun) adalah suatu kebiasaan yang mungkin akan berguna. Suatu kebiasaan melawan lupa yang kerap dilakukan bangsa kita. Namun, jelas bagi para peneliti, khususnya sejarawan, mereka tidak serta merta meyakini bahwa semua yang ditulis si penulis catatan benar adanya. Tugas mereka lah yang meneliti dan menilai “kebenaran” isi catatan tersebut untuk disatukan dengan kepingan mozaik sejarah lainnya.

Sumber: https://sunjayadi.com/pemuda-batak-di-kamp-nazi/

  1. Tentang penulis

Kisah Sengsara Parlindoengan Loebis di Kamp Konsentrasi NAZI

Petrik Matanasi

Jurnalis tirto.id

tirto.id – Sebelum serdadu-serdadu fasis NAZI menyekapnya bertahun-tahun, Parlindoengan Loebis adalah seorang dokter yang membuka praktik di Amsterdam, jauh dari kampung halamannya. Saat itu, ia sudah beristrikan Clara Johana Loebis.

Loebis tak pernah lupa kejadian di rumahnya pada 26 Juni 1941 ketika dirinya didatangi dua reserse Belanda yang bekerja untuk tentara pendudukan Jerman. Tanpa basa-basi, ia dibawa secara paksa oleh dua reserse itu.

Sebagai mantan Ketua Perhimpunan Indonesia (PI), Loebis memang anti-fasis. BukuPendidikan di Tapanuli Bagian Selatan (2017) menyebut, Parlindoengan Loebis adalah “salah satu pimpinan mahasiswa yang terbilang radikal, anti fasis pada saat pendudukan Belanda oleh Jerman” (hlm. 30).

NAZI Jerman nan fasis memang bukan sekutu yang layak diajak kerja sama. Loebis akhirnya tahu, sebenarnya Ketua PI yang masih menjabat lah yang hendak ditangkap, tapi sulit ditemukan.

Kala itu, Perang Eropa sudah berkecamuk. Salah satu musuh Jerman adalah Uni Soviet yang komunis. Jadi, sebelum kaum komunis atau sosialis di Belanda jadi kekuatan yang mengganggu, mereka mesti disingkirkan.

Merasakan Langsung Kekejaman NAZI

Orang Indonesia yang dicokok tak hanya Loebis. Kawan Loebis di PI, Sidartawan, juga terciduk. “Waktu itu, Sidartawan tinggal di Clubhuis Indonesia; memang ia sebagai penggeraknya,” catat buku Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950 (2008) yang disusun Harry Poeze dengan bantuan tulisan dari Cees van Dijk dan Inge van der Meulen (hlm. 314).

Majalah Indonesia (21/7/1945) yang dikutip Poeze menyebut, “Tanggal 25 Juni 1941 pagi-pagi, bersama dengan banyak orang lainnya ia ditahan Polisi Politik Jerman.”

Tak hanya Sidartawan dan Loebis saja yang hendak ditangkap. Kawan-kawan mereka seperti Ilderem dan Setiadjit juga menjadi incaran polisi. Beruntung, mereka sukses meloloskan diri.

“Ia bercerita bahwa sepekan sebelum dia ditangkap, ia bersiap-siap dengan dua orang teman lain untuk datang ke rumah kami di Amsterdam,” aku Loebis tentang Sidartawan dalam autobiografinya, Orang Indonesia di Kamp Konsentrasi NAZI (2006: 132).

Mereka hendak merayakan ulang tahun Loebis, tapi Loebis keburu ditangkap. Sidartawan bahkan hendak menyelundupkan satu tas beras yang sulit didapat dan dilarang untuk dibawa ke luar kota oleh serdadu-serdadu NAZI.

Di Kamp Schoorl, Loebis dan Sidartawan bertemu. Tapi di kamp ini, derita belum dimulai. Mereka lebih banyak makan-tidur saja. Tak ada kerja paksa yang bikin sengsara. Makanan belum sulit didapat karena mereka masih boleh dikirimi makanan dari luar. Loebis mengaku pernah mendapat apel dari bekas Menteri Jajahan yang juga jadi tahanan di situ, namanya Welter, yang kenal Loebis sebelum ditahan.

Kamp Schoorl dijaga tentara NAZI, yang beberapa di antaranya berasal dari Austria. Sejak 1938, Austria sudah dicaplok Jerman. Loebis melihat serdadu-serdadu asal Austria terlihat benci kepada serdadu-serdadu asal Jerman.

Serdadu Austria masih mau ngomong-ngomong dengan kami dan memberi berita tentang keadaan di luar. Serdadu Jerman sama sekali tidak mau bicara dan mukanya kelihatan seram. Jika ada kejadian yang tidak menyenangkan, mereka melampiaskannya pada kami orang-orang tawanan,” tutur Loebis (hlm. 137).

Pada September, Loebis dan tawanan lain dipindahkan ke Kamp Amersfoort. Di sini lah penderitaan dimulai: mereka dipaksa bekerja layaknya kuli tanpa bayaran. Dengan jeda istirahat yang sangat sedikit, mereka memasang pagar kawat berduri, mengangkat semen, mengangkut batu bara, dan barang lainnya. Loebis dan Sidartawan pernah kebagian kerja memasang pagar kawat. Pekerjaan ini tampak lebih berat ketimbang angkat-angkat ala kuli.

Udara yang dinginnya bukan main membuat tubuh semakin tersiksa. Selain diperintahkan melakukan kerja paksa, jatah makanan juga berkurang di Kamp Amersfoort. Beberapa tawanan mulai melemah karena kurang makan. Meski serdadu-serdadu Jeman yang menjaga sangat bengis, beberapa tawanan nekad mencuri bahan makanan seperti kentang atau bawang.

“Dengan sembunyi-sembunyi sering juga orang-orang tawanan meninggalkan pekerjaannya dan keluyuran di kamp, kebanyakan dekat dapur, kandang ayam dan kandang babi,” aku Loebis (hlm. 144).

Jika beruntung, mereka bisa menemukan kupasan kulit kentang, kentang busuk, atau kol busuk di dapur. Di kandang ayam, mereka bisa mendapat roti basi atau kol yang sedianya untuk makanan ayam. Sementara di kandang babi, yang terdapat gudang penimbun ubi untuk pakan ternak, Loebis pernah mencuri beberapa potong ubi. Ia harus kena tendang serdadu penjaga ketika ketahuan.

Rezim fasis Jerman nan gila kejayaan itu sukses dalam menghinakan lawan politiknya bak binatang. Tentu saja tawanan seperti Loebis tak punya pilihan. Makanan binatang mereka makan untuk bertahan hidup.

Memang ada sekelompok tawanan yang sukses mencuri, tapi bukan makanan untuk hewan. Mereka adalah tawanan-tawanan tua yang dipekerjakan di ruang hangat untuk mengupas kentang. Meski tubuh mereka diperiksa ketika keluar dari tempat kerja, mereka kerap berhasil mencuri kentang.

“Caranya ialah jika mereka pergi ke WC, maka kentangnya dimasukkan ke dalam kloset dan ketika kloset disiram kentang keluar,” catat Loebis (hlm. 145).

Aliran air kloset tak dialirkan ke bawah tanah tapi ke permukaan. Kloset tetaplah jalur tinja, tapi itu satu-satunya cara yang mereka bisa untuk mendapatkan kentang. Semenjijikkan apapun, perut tetap harus diisi.

Maret 1942 adalah bulan terakhir Loebis melihat Sidartawan. Serdadu fasis Jerman memisahkan mereka. Sidartawan dinaikkan ke dalam truk, tak tahu hendak dibawa kemana. Sebelum berpisah, Loebis berkata pada Sidartawan, “Lebih baik begini, barangkali ada salah satu di antara kita yang bisa selamat ke luar dapat menceritakan kesengsaraan kita di Kamp Konsentrasi ini.”

Dipindah ke Jerman

Seminggu setelah Sidartawan, giliran Loebis yang diangkut ke luar Belanda. Setelah dua hari perjalanan, Loebis tiba di Kamp Buchenwald, Jerman. Di sinilah Loebis dan tawanan lainnya mandi beramai-ramai, memangkas rambut dan bulu kaki hingga botak, dan diberi pakaian seragam khas penghuni Kamp NAZI: piyama bergaris. Alas kaki mereka adalah klompen.

“Selama berada di Buchenwald, aku hanya mendapat satu pasang pakaian. Dalam enam bulan, hanya dua kali aku bertukar pakaian. Mandi pakai douche hanya mendapat kesempatan sekali dalam sebulan. Coba bayangkan bagaimana baunya semua orang yang ada di sini,” kenang Loebis (hlm. 152).

Di Jerman, kesengsaraan Loebis kian meningkat. Dia pun menyiapkan diri untuk lebih menderita dalam waktu yang lama. Tak ada kepastian kapan dirinya akan dikeluarkan dari “neraka dunia” itu. Bisa saja dia terbunuh sia-sia di dalam kamp.

“Aku pertama-tama harus mempunya hati yang keras dan tanpa rasa, seperti batu. Segala perasaan yang sentimentil dan cengeng harus kubuang jauh-jauh,” ujarnya.

Semua kenangan manis bersama keluarga harus dilupakan. Tak butuh masa lalu dalam penderitaan. Loebis melihat, orang-orang sentimentil, seperti tawanan Perancis yang ia kenal, tak akan bisa hidup lama. Merasa diri sudah mati akan sangat lebih baik. Di kamp, seorang tawanan hanya perlu memikirkan kebutuhan paling primitifnya: makan.

Kamp Buchenwald punya jam kerja, yaitu dari pukul 06.00 hingga 20.00 atau 21.00, kira-kira 14 jam sehari. Di sini Loebis dan tawanan lain hanya memakai tanda dan nomor di baju, tak ada nama untuk mereka. Di nisan makam pun mereka tak bernama, hanya angka.

Pada Oktober 1942, Loebis pindah dari Buchenwald. Ia dibawa ke Kamp Sachenhaussen, di Oranienburg. Ada pabrik pesawat Heinkel di dekatnya dan para tawanan dipekerjakan di situ. Di kamp itu didirikan pula rumah bordil untuk tawanan yang bekerja di pabrik pesawat. Loebis jadi dokter di sana, status yang membuatnya lebih beruntung.

Di Buchenwald, seperti diungkap Loebis, dia tak dapat pekerjaan seberat tawanan kebanyakan. Loebis bahkan mengaku, “Dari pertengahan tahun 1943 sampai aku dibebaskan pada April 1945, penghidupanku di kamp lumayan juga. Paling menolong aku ialah diangkat menjadi dokter di kamp” (hlm. 193).

Semasa menjadi dokter di kamp, Loebis pernah berpura-pura mengoperasi usus buntu seorang keturunan bangsawan Polandia agar yang bersangkutan tidak segera dieksekusi mati. Setelah operasi, si bangsawan diberi status harus beristirahat. Setelah sembuh, eksekusi mati untuknya dibatalkan dan orang itu selamat hingga perang selesai.

Parlindoengan Loebis bisa keluar hidup-hidup dari kamp NAZI, tapi tidak Sidartawan. Dia meninggal di Kamp Dachau pada minggu pertama bulan November 1942. “Sidartawan adalah orang Indonesia yang terkuat di antara orang-orang Indonesia di negeri (Belanda) ini. Namun kehidupan mengerikan di kamp konsentrasi NAZI yang terkenal buruk merusak fisiknya,” tulis Indonesia (21/7/1945).

Setelah Perang Dunia II berlalu, Loebis—yang bertemu kembali dengan Jo—pulang ke Indonesia dan melanjutkan hidupnya sebagai seorang dokter. Ia meninggal di Jakarta pada 31 Desember 1994.

Sumber: https://tirto.id/kisah-sengsara-parlindoengan-loebis-di-kamp-konsentrasi-nazi-cEFB

  1. Berita buku

  2. Ilustrasi

  3. Dokumentasi video

  4. Buku lain terkait

  • Orang Dan Partai Nazi Di Indonesia: Kaum Pergerakan Menyambut Fasisme (Wilson)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>